Eks Kantor Kawedanaan Rengasdengklok, Saksi Bisu Pengibaran Pertama Sang Merah Putih Jelang Proklamasi
- Jul 17, 2025
- FK-KIM KARAWANG
- KHASANAH
FK-KIM KARAWANG | Di tengah ladang-ladang padi dan sejarah perjuangan yang pekat di wilayah Rengasdengklok, berdirilah Eks Kantor Kawedanaan Rengasdengklok, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi penting proses menuju kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini bukan sekadar peninggalan kolonial, namun simbol transisi kekuasaan dan semangat kebangsaan yang menggelora, terutama pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Baca juga : Situs Lemah Duhur Lanang Cibuaya: Jejak Peradaban Hindu Kuno di Karawang
Didirikan pada periode 1922–1925, kantor kewedanaan ini merupakan hasil kebijakan desentralisasi Hindia Belanda yang tertuang dalam Decentralisatie Wet (1903), Decentralisatie Besluit (1905), serta diperkuat dengan Bestuurshervorming Wet (1922) dan Indische Staatsregeling (1925). Kebijakan ini membentuk sistem pemerintahan lokal otonom, termasuk pembagian wilayah administratif seperti provincie, regentschap, stadsgemeente, hingga kawedanaan.
Pada masa itu, Rengasdengklok menjadi salah satu dari tujuh distrik (kawedanaan) yang berada di bawah Afdeling Karawang, bagian dari Keresidenan Batavia. Bangunan ini dahulu menjadi pusat administratif pemerintahan lokal yang dipimpin seorang wedana, dan memiliki struktur pemerintahan hingga ke tingkat camat (soncho) dan kepala desa (kucho).
Namun, peran sejarah terbesarnya terjadi sehari sebelum Proklamasi. Pada Kamis pagi, 16 Agustus 1945, saat Bung Karno dan Bung Hatta “diculik” ke Rengasdengklok oleh para pemuda, suasana di kantor ini berubah. Di tengah rencana pertemuan soal cadangan padi yang melibatkan para pejabat lokal dan pusat, terjadi momen monumental: pengibaran Sang Merah Putih untuk pertama kalinya di tanah Karawang.
Menurut kesaksian Soejono Hadipranoto, Soncho Rengasdengklok kala itu, upacara pengibaran bendera dilakukan secara spontan namun khidmat. “Mata saya berlinang melihat Sang Merah Putih mulai berkibar,” ujarnya, mengingat pengalaman emosional tersebut dalam wawancara tahun 1980. Upacara itu diiringi rasa haru dan semangat nasionalisme, menggantikan bendera Hinomaru Jepang, yang sebelumnya dikibarkan.
Baca juga : Sejarah Awal Berdirinya Karawang dan Peranannya dalam Lintas Zaman
Eks Kantor Kawedanaan Rengasdengklok hari ini bukan sekadar bangunan tua, tetapi menjadi simbol perjuangan, perlawanan, dan persatuan rakyat Indonesia. Di sinilah ruh kemerdekaan itu bangkit, dalam upacara sederhana yang mencerminkan keberanian rakyat kecil menyatakan bahwa Indonesia telah merdeka, bahkan sebelum proklamasi resmi diumumkan di Jakarta. (sagawang)