Situs Lemah Duhur Lanang: Jejak Peradaban Hindu Kuno di Tanah Karawang

  • Jul 16, 2025
  • FK-KIM KARAWANG
  • KHASANAH

FK-KIM KARAWANG | Di tengah hamparan sawah subur Kecamatan Cibuaya, tersembunyi sebuah situs purbakala yang menyimpan jejak panjang peradaban masa lalu: Situs Lemah Duhur Lanang, atau dikenal pula sebagai Situs Cibuaya I. Situs ini bukan sekadar peninggalan arkeologi, melainkan cerminan warisan budaya Hindu yang pernah berkembang di wilayah pesisir utara Jawa Barat.

Baca juga : Jejak Syekh Quro dan Masjid Agung Karawang: Warisan Islam Tertua di Jawa

Terletak di atas gundukan tanah berukuran sekitar 20 x 15 meter dengan tinggi dua meter dari permukaan tanah, Situs Lemah Duhur Lanang masih menyisakan struktur candi berbahan bata merah, sejenis dengan material bangunan yang digunakan di Kompleks Percandian Batujaya, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi ini. Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Jawa Barat, dari tujuh struktur purbakala yang pernah tercatat di Cibuaya, hanya dua yang kini masih dapat terlihat: Lemah Duhur Lanang dan Candi Wadon.

Penemuan awal situs ini terjadi pada tahun 1952, saat Dinas Purbakala menemukan arca batu yang kemudian dikenal sebagai Arca Wisnu Cibuaya. Penelitian arkeologi lebih lanjut dilakukan secara berkala sejak tahun 1975 hingga 1995 oleh Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Balai Arkeologi Bandung. Ekskavasi pada tahun 1984 berhasil mengidentifikasi sisa kaki bangunan candi berbentuk bujur sangkar berukuran 3,5 x 3,5 meter. Kini, dimensi struktur utama tercatat sekitar 9,00 x 8,90 meter, meskipun beberapa bagian sudah mengalami penurunan dan pergeseran.

Keistimewaan situs ini terletak pada keberadaan lingga — batu tegak berbahan andesit — yang berdiri di puncak struktur sebagai simbol kepercayaan Hindu. Lingga setinggi 115 cm tersebut dikenal sebagai Lingga Semu, dengan bagian bawah berbentuk segi empat (visnubhaga) dan bagian atas berbentuk silinder (rudrabhaga) yang sedikit membulat. Meskipun bagian atasnya telah mengalami pengeroposan, bentuk dan motifnya masih dapat dikenali.

Nama “Lemah Duhur Lanang” berasal dari bentuk topografinya: tanah yang menonjol tinggi dengan lingga di atasnya, melambangkan simbol maskulin atau laki-laki dalam kepercayaan Hindu. Selain arca Wisnu yang ditemukan di sekitarnya, orientasi bangunan yang menghadap barat laut-tenggara juga menunjukkan adanya keterkaitan spiritual dengan tata letak candi Hindu pada umumnya.

Tak jauh dari struktur utama, terdapat sebuah kolam atau kobak berukuran 10 x 10 meter dengan kedalaman sekitar 2–3 meter. Kini, kawasan di sekitar situs ditanami sayuran oleh warga, namun keberadaan situs tetap dilestarikan dan dirawat, berkat peran aktif juru pelihara situs seperti Bapak Udin dan Galih.

Baca juga : Melongok Makam Ki Bagus Jabin di Cikampek Pusaka: Simbol Muslim Taat dan Anti Penjajah Belanda

Menariknya, Situs Lemah Duhur Lanang masih aktif digunakan sebagai tempat ritual keagamaan oleh sebagian masyarakat Hindu dan Buddha. Bahkan, dalam tradisi tertentu, situs ini menjadi lokasi ritual adat seperti penanaman kepala kambing sebagai bagian dari upacara spiritual. Situs ini juga sering dikunjungi pelajar dan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat akar budaya Karawang yang telah ada jauh sebelum era kemerdekaan.

Situs Lemah Duhur Lanang bukan hanya warisan sejarah, tapi juga simbol hidupnya pluralisme budaya dan keberlanjutan nilai-nilai spiritual yang masih dijaga hingga hari ini.(sagawang)